CEGAH FAHAM INTOLERAN DAN RADIKALISME, YSK DAN PARITAS INSTITUTE GELAR TRAINING PENGGERAK PERDAMAIAN

RAJAKABAR.COM,-KEMANG – Pandangan bahwa ideologi dan gerakan radikal menjadi ancaman terpenting bukanlah hal yang berlebihan, mengingat rentetan aksi terorisme pada tataran internasional, regional dan nasional tetap menunjukkan tren mengkhawatirkan. Dalam konteks Indonesia, di era reformasi saat ini, aksi terorisme terjadi semakin meningkat baik secara kuantitatif maupun kualitatif, dan membawa serta ideologi radikal yang mengancam persatuan bangsa.”Ideologi-ideologi dan gerakan radikal tersebut dalam kenyataannya jelas telah mampu
menggerakkan aktor-aktor dari masyarakat sipil menjadi pelaku teror dan radikalisme,” ungkap Syamsul Alam Sekretaris Yayasan Satu Keadilan (YSK) kepada media ini, Kamis (10/10/2019).

Dia mengungkapkan, semakin meluas dan masif nya praktik intoleransi dari kelompok radikal, saat ini juga telah merambah dan memanfaatkan media sosial (medsos). Melalui medsos, sambungnya, kelompok radikal menyebarkan paham-paham secara lebih luas, terutama kelompok muda, dan secara tidak langsung melakukan kaderisasi digital. “Tak
dapat dipungkiri, kelompok muda yang belum memiliki kesadaran dan ketahanan diri atas
paham-paham radikalisme dan intoleransi, dapat dengan mudah terpapar,” bebernya.

Lebih jauh Syamsul Alam mejelaskan, kondisi tersebut diperburuk dengan minimnya pemahaman kelompok muda akan penggunaan media sosial secara positif, kurangnya edukasi literasi digital dan kemampuan untuk berpikir kritis ketika menerima sebuah informasi. Dampaknya, kelompok muda terlibat melakukan praktik intoleransi baik secara
langsung maupun di dunia maya. Alam sapaannya menambahkan, bentuk-bentuk keterlibatan tersebut antara lain menyebarkan
berita bohong (hoax), ujaran kebencian, perundungan di dunia maya, teror dan tindakan rasisme.
“Karena meningkatnya radikalisasi melalui media sosial dan aksi-aksi kekerasan yang berawal dari sikap intoleransi itulah, maka Yayasan Satu Keadilan bersama Paritas
Institute melaksanakan pelatihan bagi kelompok muda untuk menciptakan komunitas Penggerak Perdamaian, guna menumbuhkan generasi muda sebagai agen
perubahan dan perdamaian dan mendorongnya menjadi komunitas pioneer yang toleran,” Ungkapnya.

Alam memaparkan, tujuan pelatihan tersebut diantaranya memberikan kemampuan mengidentifikasi pola – pola penyalahgunaan media sosial untuk penyebaran paham radikalisme dan intoleransi antar identitas, menumbuhkan kesadaran diri (self-awareness) dan meningkatkan ketahanan diri (self￾defense) bagi peserta pelatihan dalam menghadapi narasi-narasi radikalisme dan intoleransi. Selain itu, lanjut Alam, mendorong peserta pelatihan untuk menyebarkan pesan-pesan perdamaian dan toleransi ke
media sosial yang digunakan serta membentuk komunitas muda lintas iman sebagai wadah perintis perdamaian dan membangun kapasitasnya dalam menyebarkan konsep narasi perdamaian dan
toleransi baik di dunia maya maupun lingkungannya. “Penyelenggara kegiatan ini adalah Yayasan Satu Keadilan bersama Paritas Institute dan didukung
oleh Search for Common Ground Indonesia. Akan berlangsung mulai hari Jumat hingga Minggu, tanggal 11-13 Oktober 2019. Lokasi kegiatan di Joglo Keadilan,
Jl. Parakan Salak no.1, Desa Kemang, Kecamatan Kemang.” Pungkas Syamsul Alam.

JAY

Post Author: Adminnr

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *