AGJT DAN BEM FATETA IPB SEPAKAT PERJUANGKAN NASIB MASYARAKAT KORBAN TERDAMPAK USAHA TAMBANG

RAJAKABAR.COM | PARUNGPANJANG – Minimnya informasi terkait soal pertambangan serta berbagai dampaknya terutama kepada kalangan mahasiswa, mendorong Aliansi Gerakan Jalur Tambang (AGJT) untuk melakukan berbagai kajian serta diskusi akademik dengan para generasi intelektual penerus bangsa tersebut.

Demikian diungkapkan Junaedi Adhi Putra, Ketua Umum AGJT setelah melakukan diskusi dengan puluhan orang mahasiswa dari Badan Eksekutif Fakultas Tekhnologi Pertanian (BEM FATETA) IPB Bogor. Dia mengungkapkan, masih banyak mahasiswa yang tidak tahu secara rinci masalah eksplorasi tambang serta berbagai dampak yang ditimbulkannya. “Semua hal itu kami diskusikan dengan rekan-rekan mahasiswa,” ungkapnya.

Dalam diskusi itu, Junaedi mengaku menjelaskan bagaimana usaha pertambangan yang ada di Kecamatan Rumpin, Cigudeg, Cariu, dan Parungpanjang telah menimbulkan dampak kerusakan lingkungan yang sangat mengkhawatirkan. “Jadi memang harus segera dilakukan evaluasi secara menyeluruh oleh Pemerintah baik soal regulasi, perizinan,dan pengelolaannya,” ungkap Alumnus Fakultas Ekonomi Universitas Pamulang tahun 2013 ini.

Dibeberkan Junaedi, akibat aktifitas usaha pertambangan yang serampangan, telah menimbulkan kerusakan lingkungan dan insfratuktur, menurunnya derajat kesehatan, kekeringan dan kecelakaan lalu lintas. Menurutnya, pemerintah harus segera melakukan langkah cepat agar semua bisa diselamatkan. “Salah satu solusinya adalah pembuatan jalur khusus tambang dan pemberlakuan jam operasional melalui Perbup Bogor.” Tandas Junaedi.

Sementara Emir Aulia, Kepala Departemen Kajian dan Aksi Strategis BEM FATETA IPB mengatakan, rekan mahasiswa merasa senang dan bangga bisa bersama untuk berjuang dengan dalam mewujudkan keadilan bagi masyarakat yang terdampak usaha tambang. “Diskusi ini bisa menjadi titik awal bagi Keluarga Mahasiswa IPB dalam usaha bergerak dan berjuang bersama masyarakat,” cetusnya.

Emir Aulia menegaskan, dalam diskusi tersebut KM IPB khususnya mahasiswa Fateta banyak melontarkan pertanyaan dan gagasan yang berhubungan antara masyarakat, pengusaha tambang, dan Pemkab Bogor khususnya. “Kebanyakan dari mahasiswa bertanya tentang berbagai dampak yang di timbulkan aktivitas tambang, seperti kecelakaan, serangan penyakit ISPA, dan kondisi ekonomi yang memperihatinkan akibat upah murah dan maraknya pungutan liar,” ungkapnya.

Masih kata Emir, mahasiswa peserta diskusi juga banyak mempertanyakan usaha-usaha pemerintah dan para pengusaha tambang yang sampai saat ini dinilai tidak serius untuk menyelesaikan berbagai masalah dampak pertambangan. Dia menekankan, KM IPB khususnya BEM FATETA IPB juga sepakat bahwa permasalahan yang terjadi di wilayah pertambangan bukan masalah sepele dan harus segera diselesaikan oleh pemerintah setempat. “untuk selanjutnya kami akan bergerak bersama-sama dengan masyarakat untuk mengawal isu ini kedepan.” Pungkasnya.
JAY

Post Author: Adminnr

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *