Pengaruh Religiusitas, Pendapatan, dan Kepercayaan Terhadap Minat Muzakki dalam Membayar Zakat di LAZ PZU Unit Citeureup

Akbar Maulana
Ekonomi Syariah UIKA Bogor
akbarmao96@gmail.com
Abstrak
Zakat merupakan salah satu kewajiban yang harus ditunaikan umat Islam, saking pentingnya zakat selalu bersanding dengan shalat (QS. Al-Baqarah: 110). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah tingkat minat masyararakat dalam berzakat berpengaruh signifikan berdasarkan faktor religiusitas, pendapatan dan kepercayaan di Pusat Zakat Umat Unit Citeureup. Penelitian ini mengunakan variabel dependen (y) yaitu minat membayar zakat, untuk variabel independen (x) meliputi: relegiusitas (x1), Pendapatan (x2), dan Kepercayaan (x3). Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif, menggunakan teknik non probability sampling. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer yang diperoleh dari kuisioner. Metode pengolahan data yang di gunakan oleh peneliti adalah Analisis Regresi Linear Berganda. Data yang didapat dari penelitian ini diolah menggunkan program computer SPSS 25.
Kata Kunci : relegiusitas, kepercayaan, kesadaran diri, minat membayar zakat
Abstract
Zakat is one of the obligations that must be fulfilled by Muslims, so the importance of zakat is always coupled with prayer (QS. Al-Baqarah: 110). This study aims to determine whether the level of community interest in tithe has a significant effect based on factors of religiosity, income and trust at the Citeureup Unit Zakat Center. This study uses the dependent variable (y), namely the interest to pay zakat, for the independent variable (x) including: religiosity (x1), income (x2), and trust (x3). This type of research is quantitative research, using non-probability sampling techniques. The data used in this study are primary data obtained from questionnaires. The data processing method used by researchers is Multiple Linear Regression Analysis. Data obtained from this study were processed using the SPSS 25 computer program.
Key words : religiosity, trust, self-awareness, interest in paying zakat
1 PENDAHULUAN
Masalah kemiskinan yang ada di Indonesia sebenarnya bukan masalah yang baru. Kemiskinan merupakan gejala sosial yang harus mendapatkan perhatian mendalam baik dari pihak pemerintahan maupun masyarakat. Kemiskinan sebagai bentuk ancaman merupakan paradigma yang telah ada sejak berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) (Said, 2014:561).
Di Indonesia, Kabupaten Bogor merupakan salah satu kabupaten dengan jumlah penduduk miskin yang terus bertambah tiap tahunnya, berdasarkan data yang di keluarkan Badan Pusat Statistik (BPS) Maret 2010 di Kabupaten Bogor tercatat adanya 31,02 jumlah penduduk miskin dari 228 juta jiwa penduduk Indonesia atau kurang lebih 14,5%, pada sisi lain rasio Gini pada 2010 tercatat 0,331. Garis kemiskinan (GK) Kabupaten Bogor mengalami peningkatan dari Rp173.281/kapita/bulan tahun 2008 meningkat menjadi Rp197.319/kapita/bulan tahun 2009. Angka ini masih tergolong angka yang sangat tinggi tentunya, berdasarkan kondisi tersebut terlihat adanya ketidak optimalan dalam pengumpulan zakat, hal ini tentunya berdampak pada peranan zakat dalam mengurangi ketimpangan pendapatan dan kemiskinan (Huda, dkk, 2015:75).
Dalam ajaran Islam, solusi dalam menangani kemiskinan sudah di lembagakan yaitu dengan zakat dan cara penunaiannya. Zakat memang tidak bisa menuntaskan kemiskinan sampai hilang, tetapi zakat bertujuan untuk menekan angka kemiskinan. Karena kemiskinan pada hakikatnya akan tetap ada di manapun. Sekalipun negara maju. akan tetapi, menurut Hasni Ahmad Said, Kemiskinan di Indonesia jumlahnya terlalu banyak, sedangkan di negara maju cenderung lebih sedikit. Maka dengan adanya zakat diharapkan mampu menjadi instrumen yang dapat memberdayakan kalangan yang kurang mampu (Said, 2014:214).
Salah satu lembaga pengelola zakat di Indonesia yang di bentuk oleh Persatuan Islam (PERSIS) yaitu Lembaga Amil Zakat (LAZ) Pusat Zakat Umat (PZU) berdiri berdasarkan SK Mentri Agama RI no.552 Tahun 2001 dan SK Kementrian agama RI no.865 tahun 2016. Merupakan lembaga yang berfungsi untuk mengelola dana zakat yang memfokuskan pada pengelolaan zakat, infaq, shodaqoh, dan wakaf secara profesional dengan program-program diantaranya pendidikan, kesehatan, pembinaan komunitas dan pemberdayaan ekonomi (www.pzu.or.id ).
Data dari Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) yang mengacu pada hasil kajian Asian Devolepment Bank (ADB) menunjukkan bahwa potensi zakat Indonesia bisa mencapai Rp.100 Trilyun per tahun, bahkan menunjukkan bahwa potensi zakat nasional tahun 2011 adalah Rp 217 trilliun. Potensi yang cukup besar ini terdiri dari potensi zakat rumah tangga sebesar Rp 82,7 trilliun, potensi zakat industri swasta Rp Rp 114,89 trilliun, potensi zakat BUMN Rp 2,4 trilliun, dan potensi zakat tabungan Rp 17 trilliun. Sedangkan jumlah zakat yang mampu dihimpun oleh BAZNAZ dari seluruh Unit Pengelola Zakat (UPZ) yang ada di seluruh wilayah tanah air, walau pun terus meningkat dari tahun ke tahun, namun jumlah absolutnya masih sangat kecil, yakni pada tahun 2007 sebesar Rp450 M, kemudian meningkat menjadi Rp920 M pada tahun 2008, dan sebesar Rp1,2 T pada tahun 2009, selanjutnya menurut perkiraan pada tahun 2010 sebesar Rp1,5 T. Artinya, dibandingkan dengan potensi, jumlah zakat yang berhasil dihimpun oleh BAZNAS baru kurang lebih 1% per tahun. Suatu jumlah yang sangat kecil (Bachdim dkk, 2012:426).
Sementara itu menurut ketua Baznas Kabupaten Bogor, Lesmana menuturkan pada tahun 2017 Baznas Kabupaten Bogor telah mengerhimpun Zakat, Infaq dan Sedekah (ZIS) dari 500 UPZ hingga Rp6,4 miliar (www.radarbogor.id). Padahal potensi zakat yang ada di Kabupaten Bogor bisa mencapai Rp135 miliar pertahun (Huda, dkk, 2015:75). Sedangkan Zakat yang berhasil di himpun oleh Pusat Zakat Umat (PZU) Unit Citeureup pada tahun 2018 hanya sebesar Rp138 juta dari jumlah tersebut hanya memberikan sumbangsi yang sedikit dari total 500 UPZ (Data Pzu).
Besarnya gap yang sangat besar antara potensi zakat dan realisasinya, diidentifikasi dan disebabkan karena masalah kelembagaan pengelolaan zakat, masalah kesadaran masyarakat, dan masalah sistem menejemen zakat yang belum terpadu, untuk mengatasi masalah tersebut perlu dilakukan strategi yang dapat mengatasi ancaman dan tantangan yang di hadapi dan memperbaiki kelemahan OPZ secara keseluruhan (Huda, dkk, 2015:31).
Kurang optimalnya zakat yang terkumpul disebabkan beberapa hal, antara lain: Kurangnya minat muzakki untuk membayar zakat di lembaga zakat dipengaruhi oleh beberapa hal. Pertama, ketidaktahuan kewajiban membayar zakat. Menurut Hafidhuddin salah satu penyebab belum terkumpul zakat secara keseluruhan di lembaga-lembaga pengumpul zakat, kerena pengetahuan masyarakat terhadap harta yang wajib dikeluarkan zakatnya masih terbatas pada sumber-sumber konvensional yang secara jelas dinyatakan dalam Al-Quran dan Hadist dengan pernyataan tertentu (Hafidhuddin, 2002:125).
Kedua, Pendapatan juga diyakini merupakan faktor yang mempengaruhi minat masyarakat membayar zakat. Islam menyatakan bahwa, seseorang diwajibkan membayar zakat apabila pendapatan yang dimiliki telah mencapai nisab dan haulnya, dan sebaliknya apabila seseorang yang memiliki pendapatan belum mencapai nisab dan haulnya, maka orang tersebut tidak wajib mengeluarkan zakatnya (Mukhlish & Zulfahmi, 2018:21).
Ketiga, ketidakpercayaan terhadap Lembaga Pengelola Zakat. Salah satu faktor yang mempengaruhi keengganan masyarakat membayar zakat pada BAZ/LAZ adalah kurangnya kepercayaan dari masyarakat terhadap BAZIS/LAZ dalam menyalurkan zakat kepada mustahiq, sehingga sebagian masyarakat mengeluarkan zakatnya tidak melalui Amil zakat tetapi langsung kepada Mustahiq (Mukhlish & Zulfahmi, 2018:21).
Dilatarbelakangi oleh hal-hal di atas, maka peneliti melakukan kajian untuk mengetahui Pengaruh Religiusitas, Pendapatan dan Kepercayaan Dalam Mempengaruhi Minat Muzakki Untuk Membayar Zakat di Kecamatan Citeureup. Dalam penelitian ini tidak hanya mencari alasan yang berkaitan dengan aspek keagamaan seseorang yang membayar zakat (Muzakki), akan tetapi untuk mengetahui alasan lain yang mendasari seseorang untuk membayar zakat. Selain itu dicari juga alasan yang melatarbelakangi wajib zakat dalam memilih tempat membayar zakat. Oleh karena itu peneliti tertarik mengambil judul “PENGARUH RELIGIUSITAS, PENDAPATAN, DAN KEPERCAYAAN TERHADAP MINAT MUZZAKI DALAM MEMBAYAR ZAKAT DI LAZ PZU UNIT CITEUREUP”
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa berpengaruhnya Religiusitas, Pendapatan dan Kepercayaan terhadap minat muzakki dalam membayar zakat di LAZ Pusat Zakat Umat (PZU) Unit Citeureup
2 LANDASAN TEORI
PENGERTIAN ZAKAT
Di lihat dari segi bahasa, zakat memiliki beberapa arti, diantaranya Al-barakatu/ البركة (keberkahan), Namaa/النماء (pertumbuhan dan perkembangan), Ath-thuhru/الطهر (kesucian) dan Ash-shalahu/الصلاح (kebesaran). Sedangkan menurut istilah zakat merupakan bagian dari harta dengan persyaratan tertentu, yang Allah SWT wajibkan kepada pemiliknya untuk di serahkan kepada yang berhak menerimanya, dengan persyaratan tertentu dan melalui amil zakat. Dari kedua pengertian ini sangat nyata dan erat sekali yaitu harta yang dikeluarkan zakatnya akan menjadi berkah, tumbuh, berkembang dan bertambah, suci dan beres (baik) (Hafidhuddin dkk, 2015:8).Secara sosiologi zakat adalah refleksi dari rasa kemanusiaan, keadilan, keimanan, serta ketakwaan yang mendalam yang harus muncul dalam sikap orang kaya (Sari, 2006:1)
LANDASAN HUKUM
Zakat merupakan salah satu dari lima rukun Islam yang selalu berdampingan dengan shalat, inilah yang membuktikan zakat sangat penting sebagai bagian dari rukun islam (Al-Baly, 2006:1), Di dalam Al-quran kata zakat dan shalat di rangkaikan pada 82 tempat hal ini menunjukan keduanya memiliki dasar hukum yang sangat kuat (Hasan, 2006:11).
Firman Allah SWT dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah :110
Artinya: “Dan dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. dan kebaikan apa saja yang kamu usahakan bagi dirimu, tentu kamu akan mendapat pahala nya pada sisi Allah. Sesungguhnya Alah Maha melihat apa-apa yang kamu kerjakan”. (QS. Al-Baqarah :110)
SEBAB, SYARAT DAN RUKUN ZAKAT
Sebab Zakat
Mahzab hanafi berpendapat bahwa penyebab zakat ialah adanya harta milik yang telah mencapai nisabnya dan produktif meskipun kemampuan dalam produktivitasnya hanya baru berupa perkiraan. Dengan ketentuan, pemilik harta telah berlangsung selama satu tahun (haul) yaitu tahun qomariyah. Dan pemiliknya tidak memiliki utang yang berkaitan dengan hak manusia, syarat lainya adalah harta tersebut telah melebihi kebutuhan pokoknya (Al-Zuhayly, 2008:95).
Syarat wajib zakat
Syarat wajib zakat, yakni kefarduannya, ialah sebagai berikut (Al-Zuhayly, 2008:98):
1) Merdeka
Seorang budak tidak kenai kewajiban membayar zakat, karena dia tidak memiliki sesuatu apapun. Semua miliknya adalah milik tuannya .

2) Muslim
Seorang non muslim tidak wajib untuk menunaikan zakat lain halnya dengan murtad (keluar dari agama Islam) terdapat perbedaan pendapat menurut imam Syafi’i orang yang murtad tetap di wajibkan menunaikan zakat terhadap hartanya ketika sebelum murtad akan tetapi menurut Imam Hanafi, seorang yang telah murtad tidak dikenai zakat terhadap hartanya, karna kemurtadannya menggugurkan kewajiban tersebut.
3) Baligh dan berakal
Anak kecil dan orang gila tidak dikenai zakat pada harta milikinya, karna keduanya tidak dikenai khitab perintah. Anak-anak yang belum balig tidak wajib baginya untuk mengeluarkan zakat hartanya kepada walinya atau orang yang mengurus hartanya itu, seperti anak yatim yang mempunyai harta dan telah memenuhi syarat untuk dikeluarkan zakatnya.
Hal ini sebagaimana Hadist Nabi Rasulullah SAW bersabda,
اِ بْتَغُوْا في مَالِ اْليَتَا مَى ، لَاتَاْ كُلُهَا الزَّ كَا ةُ
Artinya: “Carilah manfaat dari harta dari anak-anak yatim. Harta itu tidak di makan oleh zakat”. (HR. Tirmidzi).
4) Harta yang di keluarkan adalah harta yang wajib dizakati
harta yang mempunyai kriteria ini ada lima jenis , yaitu:
a) Uang, emas perak, baik berbentuk uang logam maupun uang kertas;
b) Barang tambang barang temuan;
c) Barang dagangan;
d) Hasil tanaman dan buah-buahan;
e) Menurut jumhur, binatang ternak yang merumpukupakan kepemilikan sendiri; atau binatang yang di beri makan oleh pemiliknya.
5) Harta yang dai zakati telah mencapai nisab atau senilai denganya
Menurut jumhur ulama harus mencapai nisab yaitu jumlah minimal yang menyebabkan harta terkena wajib zakat (Hafidhuddin, 2002:24).
6) Harta yang di zakati adalah milik penuh
Maksudnya harta yang dimiliki merupakan harta yang sepenuhnya dalam kekuasaan sang pemilik harta, baik secara kekuasaan pemanfaatan maupun kekuasaan menikmati hasilnya dan di dalamnya tidak ada hak milik orang lain harta tersebut harus didapatkan dengan cara halal dan baik, berarti harta haram baik zat maupun cara memperolehnya, jelas tidak akan dikenakan kewajiban mengeluarkan zakat (Sari, 2006:16).
7) Kepemilikian telah mencapai setahun (haul), menurut hitungan tahun qamariah.
Maksudnya harta tersebut telah mencapai waktunya untuk mengeluarkan zakat biasanya dua belas bulan atau setiap kali setelah menuai panen. Sedangkan persyaratan satu tahun ini hanya berlaku pada hewan ternak, uang, harta benda yang di perdagangkan, emas dan perak lain hal menegenai hasil pertanian, buah-buahan, dan bahan temuan (rikaz) dan lain sejenis tidaklah diisyaratkan haul, Tahun yang di hitung adalah tahun qamariah bukan tahun syamsiah dan penentuan tahun qamariah ini berlaku untuk semua hukum Islam, seperti puasa dan ibadah haji (Sari, 2006:17).
8) Harta tersebut bukan merupakan harta hasil utang
Maksudnya harta yang di miliki harus terbebas dari hutang, berarti harta yang dimiliki tersebut bersih dari hutang, baik utang kepada Allah (nazar dan wasiat) maupun utang kepada manusia (Sari, 2006:17). Apabila pemilik harta mempunyai hutang yang menghabiskan atau mengurangi jumlah nisab zakat, zakat tidaklah wajib baginya (Mardani, 2016:36).
9) Harta yang di zakatai melebihi kebutuhan pokok
Sebagain ulama mazhab hanafi mensyaratkan kewajiban zakat setelah terpenuhinya kebutuhan pokok atau dengan kata lain zakat di keluarkan setelah terdapat kelebihan dari kebutuhan hidup sehari-hari yang terdiri atas kebutuhan sandang, pangan, dan papan (Hafidhuddin, 2002:37).
c. Syarat sah pelaksanaan zakat
1) Niat
Para ulama bersepakat bahwa niat adalah syarat pelaksanaan zakat. Pendapat ini didasari dari sabda Nabi saw berikut; “Pada dasarnya, amalan-amalan itu di kerjakan dengan niat”. Pelaksanaan zakat merupakan amalan yang sama dengan solat. Karena itu diperlukanya niat untuk membedakan mana yang ibadah fardu dan ibadah yang nafilah.
2) Tamlik ( memindahkan kepemilikan harta kepada penerimanya)
Tamlik merupakan syarat sahnya dalam menunaikan zakat, yaitu dana zakat yang telat terkumpul diberikan kepada mustahiq. Oleh karna itu seseorang tidak boleh memberikan zakatnya kepada mustahiq kecuali dengan tamlik
RELIGIUSITAS
Religiusitas adalah tingkat konsepsi seseorang terhadap agama dan tingkat komitmen seseorang terhadap agamanya. Tingkat konseptualisasi adalah tingkat pengetahuan seseorang terhadap agamanya, sedangkan yang dimaksud dengan tingkat komitmen adalah suatu hal yang perlu dipahami secara menyeluruh, sehingga terdapat berbagai cara individu untuk menjadi religius (Yazid, 2017:174).
Untuk mengetahui apakah seseorang religius atau tidak dalam keberagamaan bisa di ukur dengan lima dimensi, yaitu, dimensi keyakinan, dimensi praktek agama (ritual dan ketaatan), dimensi pengalaman, dimensi pengetahuan agama, dimensi pengamalan atau konsekuensi. Dalam masalah ini Islam merupakan agama yang banyak dipeluk oleh masyarakat Indonesia, lima dimensi ini dapat diterangkan sebagai berikut (Wahyudin dkk, 2010:7) :
a. Dimensi Ritual; yaitu untuk mengukur seseorang melakukan kewajiban ibadanya dalam agama yang dipeluknya. Misalnya; pergi ke rumah ibadah, berdoa pribadi, berzakat, dan lain- lain. Dimensi ritual ini adalah prilaku keberagamaan yang merupakan peribadatan yang berbentuk upacara keagamaan.
b. Dimensi Ideologis; yaitu untuk mengukur tingkatan sejauh mana seseorang menerima hal-hal yang bersifar dogmatis dalam agamanya. Misalnya; menerima keberadaan Tuhan, nabi dan rasul , malaikat, dan lain- lain. Dalam ajaran Islam dimensi ini menyangkut kepada kepercayaan seseorang akan agamanya.
c. Dimensi Intelektual; yaitu untuk mengukur seberapa jauh seseorang mengetahui, mengerti, dan paham tentang ajaran agamanya, serta mau melakukan kegiatan untuk semakin bertambahnya pemahaman keagamaan yang berkaitan dengan agamanya.
d. Dimensi Pengalaman; yaitu untuk mengukur sebarapa jauh tingkat seseorang dalam merasakan dan mengalami perasaan-perasaan dan pengalaman religius. Dalam Islam dimensi ini terwujud dalam perasaan dekat dengan Allah, perasaan terkabulnya doa-doa, perasaan tentram bahagia karena menuhankan Allah, perasaan bertawakkal, perasaan khusuk ketika melaksanakan sholat, perasaan tergetar ketika mendengar adzan atau ayat-ayat al-qur’an, perasaan syukur kepada Allah, perasaan mendapat peringatan atau pertolongan dari Allah.
e. Dimensi Konsekuensi; yaitu untuk mengukur sejauh mana seseorang itu mau berkomitmen dengan ajaran agamanya dalam kesehariannya. Misalnya; membantu orang lain, bersikap amanah, mau berbagi, tidak zolim, dan lain-lain.
PENDAPATAN
Pendapatan adalah keuntungan yang didapatkan seseorang baik berbentuk materi maunpun non materi yang didapatkan dengan usaha tertentu. Islam tidak hanya mewajibkan zakat atas kekayaan namun juga mewajibkan zakat atas pendapatan, seperti zakat atas pendapatan hasil pertanian, hasil barang dagangan, dan hasil lain yang diperoleh dari berbagai pekerjaan dan usaha. Syarat harta yang harus dipenuhi dalam kewajiban zakat sebagai berikut (Mukhlish & Zulfahmi, 2018:23):
a. Kepemilikan harta yang pasti dan kepemilikan penuh
b. Berkembang.
c. Milik penuh.
d. Melebihi kebutuah pokok.
e. Bersih dari hutang.
f. Mencapai nishab.
g. Mencapai haul.
h. Sejumlah kadar tertentu.
KEPERCAYAAN
Kepercayaan Kepercayaan (thrust) adalah ekspektasi atau pengharapan positif bahwa orang lain tidak akan melalui kata-kata, tindakan, dan kebijakan bertindak secara oportunistik. Konsep kepercayaan secara umum dapat dibedakan kedalam dua jenis, yaitu political trust (kepercayaan politik) dan social trust (kepercayaan sosial). Dalam persepektif politik, kepercayaan terjadi ketika menilai lembaga pemerintah dan para pemimpinnya dapat memenuhi janji, efisien, adil, dan jujur (Dwiyanto, 2011:37).
Untuk membangun sebuah kepercayaan diperlukan tujuh core values, yaitu sebagai berikut (Wibowo, 2002:53) :
a. Keterbukaan
Kerahasiaan dan kurangnya transparansi antara ke dua belah pihak dalam menjalankan kerja sama akan mengganggu trust building. Oleh karena itu diperlukan keterbukaan antara kedua belah pihak agar keduanya dapat saling percaya antara satu sama lain.
b. Kompeten
Kompeten merupakan salah satu hal yang sangat penting yang harus kita miliki, dikarenakan jika seseorang ingin memperoleh kepercayaan dari masyarakat maka perlu adanya kemampuan untuk melaksanakan yang telah dibebankan kepada nya.
c. Kejujuran
Kejujuran Kejujuran merupakan elemen terpenting dalam mendapatkan sebuah kepercayaan, dengan adanya kejujuran maka hal-hal yang bersifat merugikan yang lain dapat terhindar.
d. Integritas
Integritas adalah keselarasan antara perkataan, itikat, pemikiran dan tindakan. Dalam perkataannya berjanji akan melaksanakan tugas-tugasnya secara professional untuk menghasilkan sumberdaya yang optimal.
e. Akuntabilitas
Akuntabilitas adalah dorongan yang dimiliki seseorang untuk mempertanggung jawabkan sesuatu yang telah dikerjakan kepada lingkungannya atau orang lain.
f. Sharing
Sharing adalah sebuah pengakuan atau pengungkapan diri terhadap orang lain yang berfungsi untuk berbagi sesuatu untuk meringankan sebuah masalah.
g. Penghargaan.
Untuk mendorong sebuah kepercayaan maka harus terdapat respek saling menghargai antara satu sama lain.
MINAT MEMBAYAR ZAKAT
Minat dalam kamus besar bahasa Indonesia diartikan sebagai kecenderungan hati yang tinggi dimiliki seseorang terhadap sesuatu gairah atau keinginan. Menurut Doyles Fryer minat adalah suatu gejala pisikis yang berhubungan dengan objek atau kegiatan yang menstimulir perasaan pada tiap individu (Nurkancana, 1983:45).
Ada beberapa Faktor yang mempengaruhi timbulnya minat seseorang Menurut Crow and Crow dalam bukunya Abdul Rahman Saleh berpendapat ada tiga faktor yang mempengaruhi timbulnya minat yaitu (Mukhlish & Zulfahmi, 2018:24):
a. Dorongan dari dalam diri individu, misal dorongan makan, rasa ingin tahu dan seks. Muzakki yang telah mengetahui tentang kewajiban terhadap harta yang dimilikinya, dan dengan ada kesedaran dalam individu muzakki, maka muzakki senantiasa memiliki komitmen untuk mengeluarkan zakat setiap tahunnya.
b. Motif sosial, bisa menjadi faktor yang membangkitkan minat untuk melakukan suatu aktivitas tertentu. Dorongan dari lingkungan sekitar sangat menentukan seseorang untuk membayar zakat, misalkan dorogan dari keluarga, teman, dan dorongan dari lingkungan sekitarnya.
c. Faktor emosional, minat mempunyai hubungan yang erat dengan emosi. Setiap muzakki yang mengeluarkan zakat pasti akan dilipat gandakan hartanya oleh Allah, dan muzakki mengharapkan balasan dari Allah.
3 METODE PENELITIAN
Jenis Penelitian dan Lokasi Penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian dengan mengunakan data primer, data primer yaitu data yang secara langsung dikumpulkan dan diolah sendiri oleh peneliti langsung dari responden (Sugiono, 2002:129).
Penelitian ini dilakukan di Pusat Zakat Umat (PZU) Unit Citeureup yang merupakan salah satu lembaga pengelola dana ZIS yang beralamat di Jl. RE. Sulaiman, Masjid Al-Huda, Kp.Kebon Kopi Rt.02/08 Puspasari Kec.Citeureup Kab.Bogor 16810 Jawa Barat ,Indonesia. Penelitian ini di lakukan selama 1 bulan di mulai dari tanggal 27 September 2019 sampai 27 Oktober 2019
Populasi
Populasi adalah wilayah generalisasi terdiri atas objek atau subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulan (Sugiono, 2010:61). Populasi yang di gunakan pada penelitian ini adalah Muzakki yang telah membayar zakat di LAZ Pusat Zakat Umat (PZU) Unit Citeureup sebanyak 896 orang.
Sampel
Sedangkan sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi (Sugiono, 2010:62), sempel yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik non probability sampling adalah teknik sampeling yang tidak memberi peluang atau kesempatan yang sama bagi setiap unsur atau anggota populasi untuk dipilih menjadi sempel (Sugiyono, 1999:77). dalam penelitian ini sampel yang akan digunakan sebanyak 100 muzakki yang telah membayar zakat di di LAZ Pusat Zakat Umat (PZU) Unit Citeureup.
Jumlah sampel diambil dengann rumus Slovin sebagai berikut:
N
𝑛 = ─────
1 + 𝑁(𝑒)2

Keterangan:
n : Jumlah sampel
N : Jumlah populasi
e : presentase kelonggaran keridaktelitian karena sekalahan pengambilan sampel yang masih dapat ditolerir 10%
Jadi dalam penelitian ini sampel yang dapat digunakan menurut tumus slovin adalah sebanyak berikut:
896
𝑛 = ───────
90,6

n = 99 ~100

4 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Uji Validitas
Tabel 1
Hasil Uji Validitas
No item Rhitung Rtabel Keterangan
RELIGIUSITAS (X1)
1 0,880 0,195 Valid
2 0,883 0,195 Valid
3 0,859 0,195 Valid
4 0,842 0,195 Valid
PENDAPATAN (X2)
1 0,847 0,195 Valid
2 0,862 0,195 Valid
3 0,857 0,195 Valid
4 0,812 0,195 Valid
KEPERCAYAAN (X3)
1 0,823 0,195 Valid
2 0,876 0,195 Valid
3 0,851 0,195 Valid
4 0,862 0,195 Valid
5 0,862 0,195 Valid
6 0,845 0,195 Valid
7 0,767 0,195 Valid
MINAT MEMBAYAR ZAKAT (Y)
1 0,853 0,195 Valid
2 0,841 0,195 Valid
3 0,765 0,195 Valid
4 0,713 0,195 Valid
Sumber: Data diolah dari responden, Oktober 2019
Dari tabel diatas (Tabel 4.1 ) telah menyeleksi untuk mengambil keputusan yang valid dengan membandingkan hasil korelasi product moment dari pearson dengan taraf signifikansi 5% dengan jumlah responden 100 diperoleh rtabel sebesar 0,195. Diperoleh hasil dari item-item berupa religiusitas, pendapatan, dan kepercayaan terhadap minat muzakki dalam membayar zakat semuanya Valid. Untuk hasil dari uji validitas dengan lengkap dapat dilihat pada lampiran hasil perhitungan uji validitas. Dari hasil di atas menunjukan bahwa rhitung > rtabel pada taraf signifikansi (α) = 5% sehingga 100% butir pertanyaan dapat dipahami dan layak untuk diteliti.
Tabel 2
Uji Reabilitas
Variabel Cronbach Alpha Critical Value Keterangan
Religiusitas (X1) 0,887 0,70 Reliabel
Pendapatan (X2) 0,865 0,70 Reliabel
Kepercayaan (X3) 0,799 0,70 Reliabel
Minat Membayar Zakat (Y) 0,814 0,70 Reliabel
Sumber: Data diolah dari responden, Oktober 2019
Dari hasil uji reliabilitas terhadap kuisioner diperoleh koefisien reliabilitas sebesar 0,887, 0,865, 0,799, dan 0,814 dimana nilai tersebut lebih besar dari 0,70, maka dari hasil ini semua kusioner yang digunakan semuanya reliabel atau dapat dipercaya dan mampu menjadi alat pengumpul data.
Hasil Uji Normalitas Data K-S
Tabel 3
Uji Normalitas
One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
Unstandardized Residual
N 100
Normal Parametersa,b Mean .0000000
Std. Deviation 2.25436069
Most Extreme Differences Absolute .103
Positive .103
Negative -.094
Test Statistic .103
Asymp. Sig. (2-tailed) .011c
a. Test distribution is Normal.
b. Calculated from data.
c. Lilliefors Significance Correction.
Sumber: Data diolah dari responden, Oktober 2019
Dari hasil uji normalitas dengan metode kologorov di atas dihasilkan nilai signifikan sebesar 0,11 lebih besar dari 0.05, sehingga nilai tersebut dikatakan terdistribusi secara normal dalam penilitian ini.

Tabel 4
Hasil Uji Regresi Berganda

Coefficientsa
Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients
B Std. Error Beta
1 (Constant) 7.745 1.777
Total_X3 .042 .057 .071
Total_X2 .034 .078 .041
Total_X1 .396 .076 .479
a. Dependent Variable: Total_Y
Sumber: Data diolah dari responden, Oktober 2019
Dari hasil persamaan regresi berganda di atas maka dapat diinterpretasikan sebagai berikut:
a. Dari koefisien regresi diketahui bahwa nilai konstanta sebesar 7,745. Apabila seluruh variabel dependen yaitu religiusitas (X1), pendapatan (X2), kepercayaan (X3) nilainya sama dengan nol atau konstan maka besarnya minat membayar zakat (Y) sebesar 7,745.
b. Koefisien regresi variabel religiusitas (X1) sebesar 0,396 dengan parameter positif, hal ini menunjukkan bahwa jika religiusitas mengalami peningkatan satu satuan, maka minat membayar zakat sebesar 0,396 dengan asumsi variabel independen lainnya tetap.
c. Koefisien regresi variabel pendapatan (X2) sebesar 0,034 dengan parameter positif, hal ini menunjukkan bahwa jika pendapatan mengalami peningkatan satu satuan, maka minat membayar zakat naik sebesar 0,034 satuan dengan asumsi variabel independen lainnya tetap.
d. Koefisien regresi variabel kepercayaan (X3) sebesar 0,042 dengan parameter positif, hal ini menunjukkan bahwa jika kepercayaan mengalami peningkatan satu satuan, maka minat membayar zakat naik sebesar 0,042 satuan dan sebaliknya dengan asumsi lain adalah tetap.
Uji Simultan (Uji F)
Tabel 5
HasilUji Simultan

ANOVAa
Model Sum of Squares Df Mean Square F Sig.
1 Regression 184.228 3 61.409 11.717 .000b
Residual 503.132 96 5.241
Total 687.360 99
a. Dependent Variable: Total_Y
b. Predictors: (Constant), Total_X3, Total_X1, Total_X2
Sumber: Data diolah dari responden, Oktober 2019
Berdasarkan data pada tabel diatas diketahui F hitung atau F statistik sebesar 11.717 sedangkan nilai F tabel 2.70. Berdasarkan data tersebut diketahui F hitung > F tabel sehingga Ho ditolak dan Ha diterima, artinya secara bersama-sama Religiusitas (X1), Pendapatan (X2), Kepercayaan (X3) berpengeruh terhadap Minat Membayar Zakat (Y). Sehingga hal ini menunjukkan bahwa hipotesis yang diajukan diterima atau terbukti.

Uji Parsial (Uji T)
Tabel 5
HasilUji t
Coefficientsa
Model T Sig. Collinearity Statistics
Tolerance VIF
1 (Constant) 4.358 .000
Total_X3 .742 .460 .823 1.215
Total_X2 .431 .667 .864 1.158
Total_X1 5.181 .000 .891 1.122
a. Dependent Variable: Total_Y

Berdasarkan hasil perhitungan maka dapat dilakukan pengujian hipotesis untuk setiap variabel independen sebagai berikut:
a. Hipotesis pertama penelitian ini menduga bahwa Religiusitas (X1) berpengaruh secara signifikan terhadap Minat Membayar Zakat (Y). Berdasarkan hasil analisis uji t diperoleh besarnya t hitung untuk variabel Religiusitas (X1) sebesar 5,181 dengan ttabel = 1,984 maka nilai thitung > ttabel. Sementara nilai signifikansi thitung variabel Religiusitas (X1) sebesar 0,000, maka nilai signifikansi thitung < α (0.05). Berdasarkan hasil tersebut maka Ho ditolak dan Ha diterima yang berarti bahwa secara parsial Religiusitas (X1) berpengaruh signifikan terhadap Minat Membayar Zakat (Y).
b. Hipotesis kedua penelitian ini menduga bahwa Pendapatan (X2) berpengaruh secara signifikan terhadap Minat Membayar Zakat (Y). Berdasarkan hasil analisis uji t diperoleh besarnya t hitung untuk variabel Pendapatan (X2) sebesar 0,431 dengan ttabel = 1,984 maka nilai thitung < ttabel. Sementara nilai signifikansi thitung variabel Pendapatan (X2) sebesar 0,667 maka nilai signifikansi thitung > α (0.05). Berdasarkan hasil tersebut maka Ho ditolak dan Ha diterima yang berarti secara parsial Pendapatan (X2) tidak berpengaruh signifikan terhadap Minat Membayar Zakat (Y).
c. Hipotesis ketiga penelitian ini menduga bahwa Kepercayaan (X3) berpengaruh secara signifikan terhadap Minat Membayar Zakat (Y). Berdasarkan hasil analisis uji t diperoleh besarnya thitung untuk variabel Kepercayaan (X3) sebesar 0,742 dengan ttabel = 1,984 maka nilai thitung > ttabel. Sementara nilai signifikansi thitung variabel Kepercayaan (X3) sebesar 0,460, maka nilai signifikansi thitung > α (0.05). Berdasarkan hasil tersebut maka Ho ditolak dan Ha diterima yang berarti secara parsial Kepercayaan (X3) tidak berpengaruh signifikan terhadap Minat Membayar Zakat (Y).
5 Penutup
Kesimpulan
Hasil penelitian ini tentang pengaruh relegiusitas, pendapatan dan kepercayaan terhadap minat muzakki dalam membayar zakat dapat diambil kesimpulan dari apa yang telah dirumuskan dalam rumusan masalah sebagai berikut:
1. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, diketahui bahwa religiusitas memiliki tingkat signifikansi sebesar 0,000. Dari hasi uji t tersebut menyatakan bahwa variabel religiusitas lebih kecil dari 0,05. Sedangkan nilai t hitung yang diperoleh yaitu 5,181 hasil tersebut lebih besar dari nilai t tabel yaitu sebesar 1,984. Berdasarkan hasil tersebut maka hipotesis yang menyatakan religiusitas berpengaruh secara signifikan terhadap minat muzakki dalam membayar zakat dinyatakan diterima. Hal ini menunjukan bahwa keputusan muzakki dalam membayar zakat di Lembaga Amil Zakat ditentukan oleh tingkat religiusitas pribadi muzakki masing-masing, yaitu pengetahuan dan kesadaran akan pentingnya menuanikan zakat yang merupakan salah satu rukun dalam lima rukun islam yang wajib dilaksanakan sebagai umat muslim. Faktor ini yang menjadikan semakin tinggi tingkat keimanan seseorang dan pengetahuanya tentang zakat maka semakin mempengaruhi muzakki dalam membayar zakat.
2. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, diketahui bahwa pendapatan memiliki tingkat signifikansi sebesar 0,667. Dari hasi uji t tersebut menyatakan bahwa variabel religiusitas lebih besar dari 0,05. Sedangkan nilai t hitung yang diperoleh yaitu 0,431 hasil tersebut lebih besar dari nilai t tabel yaitu sebesar 1,984. Berdasarkan hasil tersebut maka hipotesis yang menyatakan pendapatan berpengaruh secara signifikan terhadap minat muzakki dalam membayar zakat dinyatakan ditolak. Hal ini menunjukan bahwa keputusan muzakki dalam membayar zakat di Lembaga Amil Zakat belum tentu dari pendapatan muzakki, semakin tinggi pendapatan seseorang belum tentu semakin tinggi pula minat muzakki dalam membayar zakat.
3. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, diketahui bahwa kepercayaan memiliki tingkat signifikansi sebesar 0,460. Dari hasi uji t tersebut menyatakan bahwa variabel kepercayaan lebih besar dari 0,05. Sedangkan nilai t hitung yang diperoleh yaitu 0,742 hasil tersebut lebih besar dari nilai t tabel yaitu sebesar 1,984. Berdasarkan hasil tersebut maka hipotesis yang menyatakan kepercayaan berpengaruh secara signifikan terhadap minat muzakki dalam membayar zakat dinyatakan ditolak. Hal ini menunjukan bahwa keputusan muzakki dalam membayar zakat di Lembaga Amil Zakat tidak ditentukan dari kepercayaan muzakki terhadap Lembaga Amil Zakat, semakin tinggi tingkat kepercayaan muzakki terhadap Lembaga Amil Zakat, belum tentu faktor kepercayaan berpengaruh terhadap minat muzakki dalam membayar zakat.
B. Saran
Berdasarkan kesimpulan dari penelitian ini, maka penulis memberikan beberapa saran, diantaranya:
1. Perlu adanya pembuatan kajian atau seminar khusus zakat agar muzakki paham akan pentingnya zakat bagi masyarakat yang membutuhkan agar mampu membagun umat yang lebih kuat, dan sosialisasi terkait zakat baik di media sosial, media cetak dan media lainnya semakin di gaungkan.
2. Organisasi zakat terlibat aktif dalam menyadarkan masyarakat bahwa ada hak orang lain yang wajib dikeluarkan dalam hartanya, dan Organisasi zakat juga harus mampu menghimpun dana zakat yang ada dimasyarakat secara profesional dan sesuai dengan hukum syariah.
3. Organisasi zakat juga perlu meningkatkan pelayananya secara baik guna kenyamanan muzakki dan muztahiq zakat yang telah berzakat di Lembaga Amil Zakat.

DAFTAR PUSTAKA
Al-Qur’an
Al-Zuhayly Wahbah. (2008) Zakat Kajian Berbagi Mazhab, Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Al-Baly Mahmud AL-Hamid Abdul.(2006) Ekonomi Zakat Sebuah Kajian Moneter dan Keuangan Syariah, Jakarta: PT Rajagrafindo.
Bachdim, G., Salim, U., Almanu dan Djumahir. (2012). Perilaku Muzakki dalam Membayar zakat Mal (Studi Fenomenologi Pengalaman Muzakki di Kota Kendari ). Jurnal Aplikasi Manajemen vol.10. N0.2
Dwiyanto. (2011) Mengembalikan Kepercayaan Publik Melalui Reformasi Birokrasi, Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Hafidhuddin D. (2002) Zakat Dalam Perekonomian Modern, Depok: Gema Insani.
Hafidhuddin D, Nasar F, Kustiawan T, Beik Syauqi I, Hakiem H. (2015) Fiqh Zakat Indonesia, Jakarta: Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS)
Hafidhuddin D. (2006) Anda Bertanya Zakat Infak Dan Sedekah Kami Menjawab, Jakarta:Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS).
Hassan A. (2006) Bulughul Maram, Bandung: Diponegoro
Hasan Ali M, (2006) Zakat Dan Infaq: Salah Satu Solusi Mengatasi Problema Sosial Di Indonesia, Jakarta: Kencana Prenada Media Grup.
Huda N, Novarini, Mardoni Y, Sari Permata C. (2015) Zakat Perspektif Mikro-Makro, Jakarta : Penamedia Grup.
Nurkancana, Wayan. (1996) Evaluasi Pendidikan, Surabaya: Usaha Nasional.
Sari Kartika E. (2006) Pengantar Hukum Zakat Dan Wakaf, Jakarta: PT Grasindo.
Sugiyono.(2010) Statistika Untuk Penelitian, Bandung : Alfabeta CV.
Sugiyono.(2002) Metode Penelitian Bisnis, Bandung : Alfabeta CV.
Sugiyono.(2017) Metode Penelitian Bisnis, Bandung : Alfabeta CV.
Wibowo B. (2002) Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka
Sumber Jurnal :
Mukhlish Muhammad N, Zulfahmi. (2018). Pengaruh Pengetahuan, Pendapatan dan Kepercayaan Terhadap Minat Muzakki dalam Membayar Zakat di Baitul Mal Kota Lhokseumawe. Jurnal Ekonomi Regional Unimal vol.01.No.3
Said, Hasani Ahmad. (2014) Tafsir Ahkam: Fakultas Ekonomi dan Bisnis UIN Syarif Hidayatullah. Jakarta
Yazid Athoillah A. (2017) Fakto-Faktor Yang Mempengaruhi Minat Muzakki Dalam Menunaikan Zakat di Nurul Hayat Cabang Jember. Economic: Jurnal Ekonomi dan Hukum Islam Vol.8 No.2.
Sumber Internet:
www.pzu.or.id

Post Author: admin putri

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *